Kamis, 04 Juli 2013

CATATAN PERJALANAN INDIS DI KOTA RANGKASBITUNG



CATATAN
PERJALANAN INDIS DI KOTA RANGKASBITUNG

 “Disusun  untuk  memenuhi  tugas   mata  kuliah  Sejarah  Sejarah Kebudayaan
Dosen  pembimbing  Arif Permana Putra M.Pd”




Disusun Oleh :

Nama                    : Rahayu   Permata  Hati
Prodi                     :  Sejarah
Semester               : VI ( Enam)
Nirm                     :  4322310030015


SEKOLAH  TINGGI  KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN  STKIP SETIA  BUDHI  RANGKASBITUNG
2013

MELAKUKAN PERJALAN INDIS DI RANGKASBITUNG

Pada tanggal 3 April 2013, kami dari Mahasiswa Sejarah semester VI ( Enam) melakukan perjalanan Indis di kota Rangkasbitung, bersama dosen pembimbing Arif Permana Putra M.pd,Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan dan Weny Widiayawati Basteman,S.pd.
Pada pukul 07.00 saya bersama Dedeh menunggu teman-teman di Gerja Pasundan, ini gambar posisi Gereja Pasundan yang berada di Rangkasbitung.


Keterangan :
Alamat: Jalan Sunan Kalijaga no.5 Rangkasbitung 42311
Telepon: Kantor: 0252-202416
Pastori: 0252-203209
Pos Kebaktian Teluk Lada
Alamat: d.a GKP Rangkasbitung
Pos Kebaktian Bumi Maja Wiratama
Alamat: d.a GKP Rangkasbitung

DATA DAN SEJARAH GKP JEMAAT RANGKASBITUNG
A.      DATA JEMAAT
·      Berdiri Jemaat
-          Tanggal/ Bulan / Tahun:   
·      Jumlah KK                             :   152 KK
·      Jumlah Anggota Baptis           :   174 jiwa
·      Jumlah Anggota Sidi               :   332 jiwa
·      Pos Pelayanan                           : Bumi Maja Wiratama 20 KK
·      Pos kebaktian                           : Teluk Lada
B.       PERIBADATAN
Kebaktian Umum (Minggu)    :Pkl.:09.30 s/d 11.00
a.       Kebaktian Rumah Tangga
 Hari: Rabu          Pkl.: 19.30
b.      Kebaktian SMKA
Minggu,             Pkl.: 07.30 s/d 09.00
c.       Keb. Pemuda/Remaja
Hari: Sabtu         Pkl.: 19.00 s/d 21.00
d.      Keb. Wanita
Hari : Jumat        Pkl.: 17.00 s/d 18.30
e.       Keb. Lansia (Minggu ke II)
Hari:Sabtu          Pkl.: 10.00 s/d 12.00

Suasana Jalan Multatuli Rangkasbitung













Setelah menunggu selama setengah jam pada pukul 07.30, teman-teman pun tiba, ternyata saya dan teman-teman lainnya di tinggalkan oleh rombongan teman-teman lainnya, Dan kami pun terus melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit misi pada pukul 07.38, kami semua melanjutkan pejalanan menuju Rumah Pegawai PJKA “ Menampak Kembali Indis di Rangkasbitung. 




 





Melanjutkan perjalanan menuju Gedung Juang Pamitraan 45  pada pukul 07.45.


Dan kami pun beristirahat sejenak, untuk dan mentangkan pikiran kami, inilah gambar yang beristirahat.


Inilah suasanana di belakang rumah Multatuli



Lihatlah kami semua sangat lelah sekali terus berjalan selama beberapa jam



Pada pukul 08.19  kami semua berada di Rumah Sakit Umum inilah gambar depan Rumah sakit Umum


Kami berjalan ke belakang Rumah Multatuli




Mengenai pemugaran bangunan cagar budaya golongan A disebutkan:
  1. Bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah
  2. Apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya.
  3. Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama/ sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada.
  4. Dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian. 
  5. Edward Douwes Dekker (Multatuli) tujuannya Kang Multatuli untuk melakukan protest terhadap kekejamanya Deandels di Lebak. Sedikit tambahan mengenai Hotel Salak yang dulunya bernama Hotel Binnenhof. Binnenhof mempunyai dua arti, terdiri dari dua kata “Binnen” dan “Hof” Binnen berarti “didalam” sedangkan “Hof” bisa berarti ” Istana Kerajaan” atau “KeluargaKerajaan“. Arti “Hof ” yang lain adalah “taman” atau “pekarangan” . Jadi Binnenhof dapat diartikan secara bebas sebagai: Gedung “didalam lingkungan Istana” atau Gedung yang memiliki “Taman didalamnya” Gedung parlemen Belanda saat ini bernama Binnenhof berada di lingkungan Istana Soesdijk.
Sampai dengan saat ini Hotel.Salak tetap melestarikan “Taman didalamnya” yang dapat ditemui jika anda masuk melalui lobby dan menuju kolam renang. Arti kedua “bagian dari Istana Bogor” karena “Postweg (Jalan pos) yang dibangun Daendels awalnya hanya merupakan “macadam road” yang jauh bedanya dengan jalan yang kita kenal sekarang, jalan tsb nyaris tidak membuat antara yang jelas antara Hotel Binnenhof dan Paleis van Gouveneur General (Istana sekarang). Pagar yang membatasi jalan dan halaman Istana dibangun seratus tahun kemudian.
Multatuli alias Eduward Douwes Dekker pernah bolak balik, jalan jalan setiap sore selama beberapa minggu (sejak tg 26 April 1856 hingga pertengahan bulan Mei) untuk menunggu kesempatan “bertemu” dengan Gouveneur General Charles Ferdinand PAHUD biasa disingkat Gubernur Jendral PAHUD yang tinggal di Istana Bogor saat itu.
E.D.Dekker tinggal beberapa hari di Hotel Binnenhof dan selanjutbya di hotel Bellevue Bogor Trade Mall sekarang). Koq pindah pindah? Eduard selalu kekurangan uang dan banyak hutang.Kemungkinan rekening hotel , konsumsi memberatkan koceknya. Gubernur Jendral Pahut sudah dikhabarkan mengenai adanya Edward .D.Dekker di Buitenzorg oleh residen Rangkas Bitung Dumaeyer Van Twist.
Kami berjalan menuju halaman belakang Istana, selama berjalan, Pahud sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, juga tidak menanyakan maksud keberadaan saya di Buitenzorg. Bajingan ini pasti sudah mengetahui maksud keberadaan saya di Buitenzorg, melaporkan kejahatan yang dilakukan residen dan demang di Lebak.Tetapi dia sengaja tidak menanyakannya agar saya “risih” untuk mmemulai pembicaraan kesana.
Dan kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Belanda pada pukul 10.00.


Foto kebersamaan di depan rumah Multatuli 






                 
Setelah itu kami kembali pulang ke Kampus STKIP Setia Budhi Rangkasbitung pada pukul 11.00.






Jumat, 21 Juni 2013

Teori Funsionalisme


Teori Fungsionalisme Struktural menekankan kepada keteraturan dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep utamanya adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan keseimbangan. Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, adalah fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalu tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.

Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi sutu masyarakat. Perubahan dapat terjadi secara perlahan-lahan dalam masyarakat. Kalau terjadi konflik, penganut teori Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya kepada masalah bagaimana cara menyelesaikannya sehingga masyarakat tetap dalam keseimbangan Robert K. Merton sebagai penganut teori ini berpendapat bahwa objek analisa sosiologi adalah fakta sosial seperti; peranan sosial, pola-pola institusional,  proses sosial, organisasi kelompok, pengendalian sosial.

Penganut teori fungsional menganggap segala pranata sosial yang ada dalam suatu masyarakat tertentu serba fungsional dalam artian positif dan negative. Merton mengistilahkan  ‘fungsional dan disfungsional’. Contohnya; perbudakan dalam sistem sosial Amerika Serikat lama khususnya bagian selatan. Perbudakan jelas fungsional bagi masyarakat Amerika Serikat  kulit putih. Karena sistem tersebut dapat menyediakan tenaga buruh yang murah, memajukan ekonomi pertanian kapas serta menjadi sumber status sosial terhadap kulit putih. Tetapi sebaliknya, perbudakan bersifat disfungsi. Sistem perbudakan membuat orang sangat tergantung kepada sistem ekonomi agraris sehingga tidak siap untuk memasuki industrialisasi.

Dari pendapat Merton tentang fungsi, maka ada konsep barunya yaitu mengenai sifat dari fungsi. Merton membedakan atas fungsi manifest dan fungsi latent. Fungsi manifest adalah fingsi yang diharapkan (intended) atau fungsional. Fungsi manifest dari institusi perbudakan di atas adalah untuk meningkatkan produktifitas di Amerika Selatan. Sedangkan fungsi latent adalah sebaliknya yaitu fungsi yang tidak diharapkan, sepanjang menyangkut contoh di atas  fungsai latentnya adalah menyediakan kelas rendah yang luas.

Penganut Teori Fungsionalisme Struktural sering dituduh mengabaikan variabel konflik dan perubahan sosial dalam teori-teori mereka. Karena terlalu memberikan tekanan pada keteraturan (order)  dalam masyarakat dan mengabaikan konflik dan perubahan sosial, mengakibatkan golongan fungsional ini dinilai sebagai secara ideologis sebagai konservatif. Bahkan ada yang menilai golongan fungsional ini sebagai agen teoritis daristatus quo.

Hal penting yang dapat disimpulkan bahwa masyarakat menurut kacamata teori fungsional senantiasa berada dalam keadaaan berubah secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap peristiwa dan setiap struktur yang ada, fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian pula dengan institusi yang ada, diperlukan oleh sistem sosial itu, bahkan kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun. Masyarakat dilihat dalam kondisi dinamika dalam keseimbangan.


Ringkasan Teori Evolusionisme

Ringkasan Teori Evolusionisme
Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistik yang muncul bersamaan dengan kebangkitan filsafat-filsafat materialistik kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke 19. Seperti telah disebutkan sebelumnya, paham materialisme berusaha menjelaskan alam semesta melalui faktor-faktor materi. Karena menolak pencipta, pandangan ini menyatakan bahwa segalah sesuatu, hidup ataupun tak hidup, muncul tidak melalui pencipta tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yang kemudian mencapai kondisi teratur. Akan tetapi, akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yang mengatur di mana pun ia menemukan keteraruran. Filsafat materialistis, yang bertantangan dengan karakteristik paling mendasar akal manusia ini, memunculkan “ teori evolusi” di pertengahan abad ke 19. Serta Teori Evousi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia.
Namun demikian, Charles Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti  menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi. Darwin melengkapi teori evolusinya dengan menerapkan prinsip yang sama dengan asal-usul spesies kepada asal-usul manusia dan memberikan tempat kepada manusia melakukan proses evolusi dalam rangka seleksi alam dan mempertahankan eksistensinya di alam.
Sangat sulit untuk meninggalkan teori Darwinisme yang sudah berusia lebih dari 150 tahun, tetapi dalam ilmu pengetahuan yang terus berkembang, tak terkecuali teori Darwin yang sudah melegenda itu, serta dapat dibuktikan dengan penelitian terbaru seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Karena ilmu pengetahuan saat ini, berkembang sangat pesatnya, bukan hanya hitungan tahun dan bulan, bahkan bisa dalam hitungan hari dan bahwa teori evolusi ini hanyalah sebuah kebohongan. 



Minggu, 19 Mei 2013

KEHIDUPAN KEBUDAYAAN YANG ADA DI BADUY

Tenun

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

Wilayah kanekes bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Tidak heran bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sunda dialek Sunda-Banten. Namun mereka juga lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika berdialog dengan penduduk luar. Suku Baduy sendiri terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001).

Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam. Yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala putih. Kelompok yang kedua adalah Baduy Luar atau dikenal sebagai kelompok masyarakat panamping. Yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.



Dan tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Lain halnya kelompok ketiga disebut dengan Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes tidak seperti Baduy Dalam dan Luar. dan saat ini hanya 2 kampung yang tersisa yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun semakin berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam, Budha dan Hindu. Namun inti dari kepercayaan itu sendiri ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak dengan adanya “pikukuh” ( kepatuhan) dengan konsep tidak ada perubahan sesedikit mungkin atau tanpa perubahan apapun.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. masyarakatnya mengunjungi lokasi tersebut dan melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan kalima. Hanya ketua adat tertinggi puun dan rombongannya yang terpilih saja yang dapat mengikuti rombongan tersebut. Di daerah arca tersebut terdapat batu lumping yang dipercaya apa bila saat pemujaan batu tersebut terlihat penuh maka pertanda hujan akan banyak turun dan panen akan berhasil, dan begitu juga sebaliknya, jika kering atau berair keruh pertanda akan terjadi kegagalan pada panen. Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah bertani dan menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Selain itu Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu Gubernur Banten. Dari hal tersebut terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dan penduduk luar.

Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah. Orang baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng – Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten.

Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.

Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar. Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.

Gunung Krakatau Di Banten

Gunung Krakatau 

Daerah Anyer-Carita-Labuan, di sebelah barat Provinsi Banten yang pernah musnah dihantam tsunami saat Gunung Krakatau meletus tahun 1883, kini menjadi daerah wisata pantai nan elok. Pantainya yang landai dengan pasir putih menghampar bak permadani adalah pemandangan yang pantas dinikmati di saat matahari terbit atau terbenam. Carita tour Tidak heran, pesona alam di Selat Sunda ini menarik pemilik uang untuk mendirikan tempat-tempat penginapan dengan sebutan hotel, cottage, resort, rumah makan dan sebagainya yang bertebaran sepanjang pantai itu. Sebut saja hotel berbintang mulai dari Sol Elite Marbella, Mambruk, Lippo, Patra Jasa, Sang Hyang dan sederet nama lainnya.


Bahkan pemilik uang membeli tanah-tanah terbuka di pinggir pantai, kemudian dikelola menjadi tempat wisata milik pribadi yang memungut uang bagi pengunjungnya. Ada nama Objek Wisata Marina, Pasauran Indah, Cinangka Beach, Carita Beach dan sebagainya. Fasilitas yang disediakan pengelola objek wisata itu sederhana, di antaranya MCK (mandi, cuci, kakus), bangunan-bangunan dari kayu untuk lesehan dan warung-warung. Biasanya, pengelola juga menyediakan perahu atau alat-alat untuk berenang.

Alhasil, daerah Anyer-Carita-Labuan yang secara administratif masuk Kabupaten Serang (Anyer) dan Pandeglang (Carita-Labuan) menjadi padat oleh para investor, terkesan wilayah ini sudah tak ada lagi ruang terbuka yang benar-benar milik publik. Nyaris pantai di Selat Sunda sudah dikuasai investor hingga ke bibir pantai, untuk mengeruk uang yang ada di kantung-kantung pengunjung.

Terbukti, setiap akhir pekan pantai di Anyer-Carita-Labuan dipadati wisatawan dari berbagai daerah seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan provinsi-provinsi lain. Jadi pemandangan biasa, jalur wisata ini menjadi macet, terutama dari arah Kota Cilegon di saat hari-hari libur. Sebab arus kendaraan ke daerah wisata ini seperti leher botol yang menyempit ketika memasuki jalan ke arah Anyer, selain badan jalan itu sendiri lebarnya hanya 12 meter.

Padahal ada rute alternatif yang jarang disosialisasikan oleh pemerintah setempat. Rute itu antara lain Serang-Taktakan-Cinangka-Anyer atau Serang-Padarincang-Mancak-Cinangka-Anyer. Kedua rute ini menempuh daerah pegunungan dengan panorama khas. Misalnya, di Mancak terdapat Cagar Alam (CA) Rawadanau seluas 2.500 hektare yang merupakan rawa tropik pegunungan yang tinggal satu-satunya di dunia.

Selain panorama pantai, dua anak Gunung Krakatau di Selat Sunda adalah kekuatan alam yang menarik untuk dikunjungi. Meski gunung ini termasuk administratif Provinsi Lampung, gunung ini lebih mudah dijangkau dari Provinsi Banten. Daya tarik dua anak gunung ini selain kepulan asap akibat aktivitas gunung, juga munculnya kehidupan baru di badan gunung. Ini merupakan hal yang mendorong ilmuwan atau pemerhati lainnya untuk datang.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten berkerja sama dengan perusahaan pariwisata setiap tahun menggelar acara kunjungan ke anak Gunung Krakatau dengan menggunakan kapal fery (penyeberangan) berkapasitas lebih 1.000 orang.

Wisata di Anyer dan sekitarnya bukan hanya pantai. Mercusuar Anyer diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Pembangunan jalan ini menelan korban ribuan pekerja paksa. Sayangnya, tak ada monumen atau prasasti untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu.

Sedangkan di Caringin, Kecamatan Labuan (Kabupaten Pandeglang) terdapat sebuah masjid yang didirikan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Islam Banten. Corak dan gaya arsitekturnya hampir sama dengan Masjid Agung Banten di tengah reruntuhan Kerajaan Islam Banten di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang. Konon, masjid ini didirikan dalam waktu sehari seperti dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu (Bandung) yang membangun kerajaan dalam sehari.

Namun peristiwa terbesar justru tidak terekam di daerah ini, yaitu musnahnya kehidupan di Anyer dan sekitarnya ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883. Peristiwa luar biasa ini memusnahkan Kota Anyer yang berpenduduk di atas 50.000, disusul dengan wabah malaria yang hebat. Kehancuran kota ini akibat gelombang tsunami yang dahsyat. Petugas Mercusuar di Ujungkulon di zaman itu mencatat, gelombang air mencapai ratusan meter di atas permukaan laut.

Kedahsyatan akibat letusan gunung ini sempat dipajang oleh pengelola Hotel Carita Beach yang berkebangsaan Jerman, berikut memajang foto dan karya Suku Baduy di Pegunungan Keundeung, Kabupaten Lebak. Hotel ini menggunakan bangunan khas Baduy. Setelah hotel ini dibeli oleh Grup Lippo dan mendirikan hotel modern, pajangan itu hilang. [*]Meski begitu, pantai Anyer-Carita-Labuan dan kini melebar ke Tanjung Lesung memang tetap menarik untuk dikunjungi. Paling tidak, daerah ini menjadi pelepas kejenuhan bagi warga Kota Jakarta. 

PAKAIAN ADAT BADUY



Pakaian Adat Baduy



Dulunya Banten adalah bagian dari Jawa Barat. Tetapi sejak tahun 2000, Banten memisahkan diri dan menjadi Provinsi Banten. Dari sisi kebudayaan Banten dan Jawa Barat memiliki kemiripan, begitu pula dengan pakaian adatnya. Meski begitu, Banten tetap memiliki ciri kebudayaan tersendiri. Salah satunya adalah pakaian adat Banten. Baju yang dikenakan masyarakat Banten sering disebut dengan baju pangsi. Sementara celananya disebut dengan celana komprang yang panjangnya sebatas mata kaki atau sampai betis. 
Dulu pakaian semacam ini sebenarnya juga sering digunakan oleh masyarakat Jawa Barat Sunda dalam kesehariannya, terutama pada saat melakukan pencak silat. Makanya, mengenakan pakaian adat ini seperti seorang jawara. Tapi, masyarakat Jawa Barat sudah jarang mengenakan pakaian semacam ini. Sementara masyarakat Banten, terutama suku Baduy masih menjaga kelestarian pakaian adat ini.Masyarakat Baduy masih mengenakan pakaian adatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Baduy adalah sebutan bagi suku di Banten. Baduy di Banten memiliki dua suku, yaitu Baduy  Dalam dan Baduy Luar. Pakaian adatnya sama, hanya saja warna yang menjadi ciri khas berbeda. Baduy Dalam sering mengenakan pakaian adat berwarna putih yang melambangkan kesucian. Sementara Baduy Luar mengenakan pakaian adat berwarna hitam.

Para pria Baduy Dalam memakai baju lengan panjang yang disebut jamang sangsang karena mereka mengenakannya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan. Desain baju sangsang hanya dilubangi pada bagian leher sampai bagian dada. Potongannya tidak memakai kerah, tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih.

Pakaian yang dijahit sangat sederhana, bajunya tidak terdapat kancing. Selain itu juga, masyarakat Baduy mengenakan ikat kepala berwarna putih atau hitam. Ikat kepala ini berfungsi sebagai penutup rambut mereka yang panjang, kemudian dipadukan dengan selendang. Pakaian adat mereka lebih sederhana, dan lebih mengutamakan pendekatan alam, baik dari karakter busananya maupun warna polos yang dikenakan.

Pembuatannya hanya menggunakan tangan, tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Bagian bawahnya menggunakan kain sarung warna biru kehitaman, yang hanya dililitkan pada bagian pinggang. Agar kuat dan tidak melorot, sarung tadi diikat dengan selembar kain.

Adapun pakaian Baduy Luar, mereka mengenakan baju kampret berwarna hitam. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah, seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai. Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong, kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas murni.

Cara berpakaian suku Baduy Luar Panamping memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Terlihat dari warna, model ataupun corak busana Baduy Luar menunjukan, bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar. Pakaian bagi kalangan pria Baduy adalah amat penting. Bagi masyarakat Baduy Dalam maupun Luar biasanya jika hendak bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang diselipkan di balik pinggangnya serta dilengkapi dengan membawa tas kain atau tas koja yang dicangklek di pundaknya.     

Sedangkan pakaian yang dikenakan kaum perempuan Baduy Dalam maupun Baduy Luar tidak terlalu menampakkan perbedaan yang mencolok. Model, potongan dan warna pakaian, kecuali baju adalah sama. Mereka mengenakan busana semacam sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Busana seperti ini biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah.
Bagi wanita yang sudah menikah, biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas, sedangkan bagi para gadis buah dadanya harus tertutup. Untuk pakaian bepergian, biasanya wanita Baduy memakai kebaya, kain tenunan sarung berwarna biru kehitam-hitaman, karembong, kain ikat pinggang dan selendang. Warna baju untuk Baduy.

 Dalam adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri. Masyarakat suku Baduy menenun sendiri pakaian adatnya yang dikerjakan oleh kaum perempuan. Kaum perempuan mulai menenun setelah masa panen. Dimulai dari menanam biji kapas, kemudian dipanen, dipintal, ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Penggunaan warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam, biru tua dan putih. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya, yaitu dasar hitam dengan garis-garis putih, sedangkan selendang berwana putih, biru, yang dipadukan dengan warna merah. 

Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Jenis busana yang dikerjakan antara lain, baju, kain sarung, kain wanita, selendang dan ikat kepala. Selain itu, ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah membuat golok dan tas koja, yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang yang dicelup.Di samping pakaian adat yang dijelaskan di atas, batik juga menjadi pakaian adat masyarakat Banten. Batik Banten bisa banyak ditemui di Kota Serang Banten. Meskpiun batik sering dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, tapi batik Banten memiliki ciri khas yang berbeda dengan batik lainnya.

Ciri khas tersebut utamanya terletak pada motif warna. Warna batiknya nampak meriah, sesuai dengan katakter masyarakat Banten pada umumnya yang kuat, semangat dan penuh dengan harapan. Warna batiknya juga memiliki perpaduan warna yang sesuai dengan pengaruh air bawah tanah.Batik Banten dipatenkan setelah mengalami pengkajian di Malaysia dan Singapura. Kajian ini diikuti oleh 62 negara di dunia. Hasilnya adalah, batik Banten meraih predikat terbaik sedunia. Bahkan batik Banten menjadi batik pertama yang memiliki hak paten UNESCO. Kini batik Banten telah tersebar di berbagai negara.[*]



[*] Mahasiswa Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung